Tanggal 29 Agustus 2024 saya melaksanakan wisuda di Universitas Sains Teknologi Indonesia yang dulunya bernama STMIK Amik Riau. Tahun 2017 saya masuk lulus tahun 2024. Saya belum bisa terbayang dahulunya saya bisa menjadi wisudawan. Duduk, saya berpikir lulus perguruan tinggi sama dengan kelulusan SMK. Per semester terus berjalan hingga menyadari lingkungan kuliah harus menjadi mandiri dalam ikutserta mencari nilai yang baik. Disisi lain saya awal semester masih menjadi seorang pemalas. Berbagai macam permasalahan yang dihadapi hingga masalah mental cukup menguras daya pikir sehingga mendapatkan pengalaman yang belum pernah yakni penelitian dan menyusun skripsi. Di dalam benak saya tidak ingin mengikuti acara wisuda, karena jenuh dengan seremonial formal yang dilaksanakan. Tetapi orang tua saya yakni bapak memerintah saya mengikuti acara tersebut dalam benaknya sebagai kenangan bersama anaknya. Dari pada membuat dia menggerutu alangkah baiknya mengikuti perintah. Ac...
Tanggal 29 Agustus 2024 saya melaksanakan wisuda di Universitas Sains Teknologi Indonesia yang dulunya bernama STMIK Amik Riau. Tahun 2017 saya masuk lulus tahun 2024. Saya belum bisa terbayang dahulunya saya bisa menjadi wisudawan. Duduk, saya berpikir lulus perguruan tinggi sama dengan kelulusan SMK. Per semester terus berjalan hingga menyadari lingkungan kuliah harus menjadi mandiri dalam ikutserta mencari nilai yang baik. Disisi lain saya awal semester masih menjadi seorang pemalas. Berbagai macam permasalahan yang dihadapi hingga masalah mental cukup menguras daya pikir sehingga mendapatkan pengalaman yang belum pernah yakni penelitian dan menyusun skripsi. Di dalam benak saya tidak ingin mengikuti acara wisuda, karena jenuh dengan seremonial formal yang dilaksanakan. Tetapi orang tua saya yakni bapak memerintah saya mengikuti acara tersebut dalam benaknya sebagai kenangan bersama anaknya. Dari pada membuat dia menggerutu alangkah baiknya mengikuti perintah.
Acara wisuda dimulai pada pukul 08.00, sebelum masuk ke aula kampus saya dan para wisudawan/ti dikumpulkan untuk iring-iringi bersama menuju aula kampus dengan rabana yang dilantunkan. Setelah saya berada di tempat duduk yang ditentukan mulai-lah acara wisuda yang di awali pembukaan menyanyikan lagu kebangsaan hingga akhir acara sekitar 12.00 WIB.
Bapak saya menghadiri acara wisuda pukul 09.00-an sehingga dia tidak dapat menyaksikan anaknya sidang senat. Padahal saya sudah memberitahu kepadanya agar tidak terlambat menghadiri acara tersebut. Tetapi saya tidak terlalu kesal dengan perilakunya, karena perilakunya memang seperti itu dan mengikut sampai ke-anaknya (Senyum sumbringan). Saya merasa sedih acara wisuda tidak di hadiri oleh ibu, karena dia telah meninggal sewaktu saya SMP kelas 3. Padahal ibu saya sering memberitahu saya untuk bisa kuliah dan tamat. Yang saya sedih tidak ada seorang di samping saya yang mengharapkan keinginan anaknya tercapai seperti ucapannya. Namun, saya tetap bersyukur dengan kehadiran bapak yang telah mengharapkan penuh pendidikan tinggi di keluarga yaitu saya.
Setelah prosesi wisuda telah selesai, saya menyempatkan berfoto bersama bapak saya sebagai hasil kenangan untuk bisa di lihat di masa depan. Hari dimana wajah senang bapak terlihat di foto bersama anak yang berhasil menanggungkan biaya dan mental untuk pendidikan. Walaupun keluarga saya sebagian besar adalah lulusan SMA/SMK yang pola pikirnya masih mengandalkan perasaan. Sebagai anak yang berkesempatan memperoleh pendidikan lebih baik, saya ingin keturunan saya akan menjadi seseorang yang lebih bermanfaat di bandingan diri saya dan mencetak generasi yang mampu berdiskusi sesama tanpa ada rasa ketidakenakan ketika menyampaikan suatu pendapat.

.jpeg)
Komentar
Posting Komentar